Diare |dehidrasi |infeksi

Home | Recommend This Site | Bookmark This Page

Diare




Menurut WHO definisi diare adalah buang air besar dengan konsistensi lembek sampai cair lebih dari 3x dalam 24 jam. Definisi ini tidak berlaku pada baayi yang hanya menyusu pada ibunya saja (ASI eksklusif), dikatakan diare apabila frekuensinya lebih dari 6x dalam 24 jam.

Penyebab Diare

Diare bukanlah penyakit yang datang dengan sendirinya. Biasanya ada yang menjadi pemicu terjadinya diare. Secara umum, berikut ini beberapa penyebab diare, yaitu:

1. Infeksi oleh bakteri, virus atau parasit.

2. Infeksi oleh bakteri atau virus yang menyertai penyakit lain seperti: Campak, Infeksi telinga, Infeksi tenggorokan, Malaria, dll.

3. Alergi terhadap makanan atau obat tertentu.

4. Pemanis buatan

Berdasar metaanalisis di seluruh dunia, setiap anak minimal mengalami diare satu kali setiap tahun. Dari setiap lima pasien anak yang datang karena diare, satu di antaranya akibat rotavirus. Kemudian, dari 60 anak yang dirawat di rumah sakit akibat diare satu di antaranya juga karena rotavirus.

Di Indonesia, sebagian besar diare pada bayi dan anak disebabkan oleh infeksi rotavirus. Bakteri dan parasit juga dapat menyebabkan diare. Organisme-organisme ini mengganggu proses penyerapan makanan di usus halus. Dampaknya makanan tidak dicerna kemudian segera masuk ke usus besar.

Makanan yang tidak dicerna dan tidak diserap usus akan menarik air dari dinding usus. Di lain pihak, pada keadaan ini proses transit di usus menjadi sangat singkat sehingga air tidak sempat diserap oleh usus besar. Hal inilah yang menyebabkan tinja berair pada diare.

Sebenarnya usus besar tidak hanya mengeluarkan air secara berlebihan tapi juga elektrolit. Kehilangan cairan dan elektrolit melalui diare ini kemudian dapat menimbulkan dehidrasi. Dehidrasi inilah yang mengancam jiwa penderita diare.

Selain karena rotavirus, diare juga bisa terjadi akibat kurang gizi, alergi, tidak tahan terhadap laktosa, dan sebagainya. Bayi dan balita banyak yang mengalami intoleransi terhadap laktosa dikarenakan tubuh tidak punya atau hanya sedikit memiliki enzim laktose yang berfungsi mencerna laktosa yang terkandung susu sapi.

Tidak demikian dengan bayi yang menyusu ASI. Bayi tersebut tidak akan mengalami intoleransi laktosa karena di dalam ASI terkandung enzim laktose. Disamping itu, ASI terjamin kebersihannya karena langsung diminum tanpa wadah seperti saat minum susu formula dengan botol dan dot.

Diare dapat merupakan efek samping berbagai macam obat, misalnya antibiotik. Selain itu, bahan-bahan pemanis buatan sorbitol dan manitol yang ada dalam permen karet serta produk-produk bebas gula lainnya dapat menimbulkan diare.

Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang.

Orang tua berperan besar dalam menentukan penyebab anak diare. Bayi dan balita yang masih menyusui dengan ASI eksklusif umumnya jarang diare karena tidak terkontaminasi dari luar. Namun, susu formula dan makanan pendamping ASI dapat terkontaminasi bakteri dan virus.

Klasifikasi Diare

Berdasarkan lama serangannya, diare dibedakan menjadi 2 macam:

1. Diare Akut, yaitu diare yang awalnya mendadak dan berlangsung singkat, lamanya beberapa jam sampai 14 hari. Penyebab utamanya adalah infeksi. Penyebab lain adalah toksin dan obat, kemoterapi, dan berbagai kondisi lain.

2. Diare Kronis, diare yang lebih dari 3 minggu (pada dewasa) atau lebih dari 2 minggu (pada bayi dan anak-anak). penyebabnya bervariasi. Dapat disebabkan infeksi, misalnya dari diare akut yang tidak ditangani dengan baik, gangguan pencernaan (malabsorpsi) bahan makanan, intoleransi laktosa.

Gejala Diare

Gejala diare atau mencret adalah tinja yang encer dengan frekuensi 4 x atau lebih dalam sehari, yang kadang disertai:

* Muntah

* Badan lesu atau lemah

* Panas

* Tidak nafsu makan

* Darah dan lendir dalam kotoran

Rasa mual dan muntah-muntah dapat mendahului diare yang disebabkan oleh infeksi virus. Yang khas pada diare virus adalah berak-berak air (watery), berbusa, TIDAK ada darah atau lendir, dan berbau asam. Gejala lain seperti muntah, tinja berlendir dan berdarah, mungkin disebabkan oleh bakteri atau parasit.

Selain itu, dapat pula mengalami sakit perut dan kejang perut, serta gejal-gejala lain seperti flu misalnya agak demam, nyeri otot atau kejang, dan sakit kepala. Gangguan bakteri dan parasit kadang-kadang menyebabkan tinja mengandung darah atau demam tinggi.

Diare bisa menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit (misalnya natrium dan kalium), sehingga bayi menjadi rewel atau terjadi gangguan irama jantung maupun perdarahan otak.

Diare seringkali disertai oleh dehidrasi (kekurangan cairan). Dehidrasi ringan hanya menyebabkan bibir kering. Dehidrasi sedang menyebabkan kulit keriput, mata dan ubun-ubun menjadi cekung (pada bayi yang ubun-ubunnya belum menutup). Dehidrasi berat bisa berakibat fatal, biasanya menyebabkan syok.



Related Topics on Diare


Google


For more information please fill out this form:

Name:
Email Address: